BAB I
PENDAHULUAN
1.
Latar Belakang Masalah
Produktivitas pada
operator pembuatan kap lampu yang bekerja pada perusahaan PT. Citilite sering
kali dipengaruhi oleh kinerja dari operator pembuatan kap lampu tersebut.
Produktivitas dari operator sangat mempengaruhi tingkat produksi dan kualitas
dari produk kap lampu karena dengan begitu bisa diketahui pendapatan dari
perusahaan menurun atau meningkat.
Produktivitas dari
operator juga dipengaruhi oleh lingkungan kerja atau kondisi dari operatornya
tersebut. Produktivitas operator ini bisa diukur menggunakan data waktu acak
menggunakan metode work sampling
untuk mengetahui seberapa besar operator tersebut produktif atau tidak.
2.
Tujuan Penelitian
Proposal Penelitian ini memiliki beberapa
tujuan antara lain :
1.
Mengetahui persentase produktif
dan non produktif operator yang bekerja pada PT. Citilite.
2.
Mengetahui waktu baku dari
operator yang bekerja di PT. Citilite.
3.
Mengetahui tingkat ketelitian data
dari operator yang bekerja di PT. Citilite.
4.
Mengetahui nilai kecukupan data
dari penelitian yang dilakukan terhadap operator yag bekerja di PT. Citilite.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian Work Sampling
Telah dikemukakan berbagai
cara menetapkan waktu baku dimana
terdapat diantaranya
sampling pekerjaan. Cara ini, bersama-sama dengan
pengukuran
waktu jam henti merupakan cara langsung yang pengukurannya
langsung di tempat
berjalannya pekerjaan. Jadi, work sampling adalah teknik
untuk
menganalisa
produktivitas
dari aktivitas
mesin,
proses, atau
pekerja. Metode ini merupakan metode pengukuran kerja secara langsung karena
pengamatan dilakukan secara langsung terhadap objek pengamatan (Sutalaksana, 2006).
Metode work sampling
sangat baik digunakan dalam melakukan
pengamatan atas pekerjaan yang sifatnya tidak berulang dan memiliki waktu yang
relatif panjang. Berdasarkan prosedur pelaksanaanya cukup sederhana, yaitu melakukan pengamatan aktifitas kerja untuk
selang waktu yang diambil secara
acak terhadap satu atau lebih mesin atau operator dan
kemudian mencatatnya apakah mereka ini dalam keadaan bekerja atau menganggur (Sritomo, 2003).
Metode work sampling cocok digunakan
untuk pekerjaan-pekerjaan yang
tidak berulang. Pengamatan dengan work sampling
dilakukan pada waktu yang telah ditentukan secara acak sehingga sangat efektif dan efisien untuk mengumpulkan informasi mengenai kinerja mesin atau pekerja, karena tidak memerlukan
waktu yang lama. Pengamatan metode work sampling tidak perlu dilakukan pada keseluruhan
jumlah populasi, cukup dengan menggunakan sampel yang diambil secara acak dari populasi. (Sutalaksana, 2006).
2.2 Berbagai Kegunaan Work Sampling
Work sampling mempunyai beberapa kegunaan pada umumnya di bidang produksi selain untuk menghitung waktu-waktu penyelesaian. Kegunaan
dari
metode work sampling
tersebut ialah (ainul, 2012):
1.
Mengetahui distribusi pemakain waktu sepanjang waktu kerja oleh
pekrja atau kelompok kerja.
2. Mengetahui tingkat pemanfaatan mesin-mesin atau alat-alat di pabrik.
3. Menentukan wakti baku bagi pekerja-pekerja tidak langsung.
4. Memperkirakan kelonggaran bagi suatu pekerjaan.
Metode work sampling akan terasa jauh lebih
efisien karena informasi yang dikehendaki akan didapatkan dalam waktu yang
relatif lebih singkat dan biaya yang
tidak terlalu besar. secara garis besar
metode sampling kerja
ini
dapat digunakan untuk (Sritomo Wignjosoebroto, 2003):
1.
Mengukur Ratio Delay dari sejumlah mesin, operator /
karyawan atau
fasilitas
kerja lainnya.
2.
Menetapkan
Performance Level
dari seseorang selama waktu kerja berdasarkan
waktu-waktu dimana orang itu bekerja atau tidak
bekerja, terutama sekali untuk
pekerjaan manual.
3.
Menentukan waktu baku untuk suatu proses operasi kerja.
2.3 Langkah-Langkah Sebelum Melakukan Work Sampling
Langkah-langkah dalam melakukan work sampling tidak berbeda dengan cara jam henti. Begitu pula langkah-langkah yang dijalankan
sebelum
sampling
dilakukan, yaitu:
1.
Menetapkan
tujuan pengukuran, yaitu untuk apa sampling dilakukan yang
akan menentukan besarnya tingkat ketelitian dan keyakinan.
2.
Jika sampling ditunjukan untuk mendapatkan waktu baku,
lakukanlah
penelitian pendahuluan untuk mengetahui ada tidaknya sistem kerja yang baik. Jika
belum, perbaikan-perbaikan sistem kerja harus dilakukan dahulu.
3.
Memilih operator yang terbaik.
4.
Mengadakan latihan bagi
para operator yang dipilih agar bisa dan terbiasa
dengan sistem kerja yang dilakukan.
5.
Melakukan pemisahan kegiatan sesuai yang ingin didapatkan.
6.
Menyiapkan
peralatan yang diperlukan berupa papan pengamatan, lembaran- lembaran pengamatan, pena atau pensil, dan alat lain yang diperlukan untuk
melakukan pengamatan (Sutalaksana,
2006).
2.4 Melakukan Sampling
Cara melakukan sampling pengamatan
dengan sampling pekerjaan juga tidak berbeda dengan yang dilakukan untuk cara jam henti yaitu yang terdiri
dari tiga langkah yaitu melakukan sampling pendahuluan, menguji keseragaman data,
dan
menghitung jumlah kunjungan
yang diperlukan. Berikut ini adalah penjelasan lebih lengkapnya (Sutalaksana, 2006).
1.
Sampling Pendahuluan
Melakukan sejumlah
kunjungan yang banyaknya ditentukan oleh pengukur, biasanya tidak kurang dari 30. Semua pekerjaan yang dilakukan pekerja untuk menyelesaikan pekerjaan disebut
sebagai kegiatan produktif dan non produktif.
2.
Pengujian Keseragaman Data
Tentukan batas-batas kontrol yaitu batas kontrol atas dan batas kontrol bawah.
3.
Menghitung waktu baku
Waktu baku adalah
waktu penyelesaian yang dibutuhkan
secara wajar oleh pekerja normal untuk menyelesaikan pekerjaannya
yang dikerjakan dalam
sistem kerja terbaik pada saat itu.
Hal yang terakhir dilakukan dalam sampling pekerjaan adalah menghitung waktu
baku. Waktu normal adalah waktu penyelesaian pekerjaan yang diselesaikan oleh
pekerja dalam kondisi wajar dan kemampuan rata-rata.
2.5
Produktivitas Kinerja
Produktivitas merupakan perbandingan antara output dan input, pengertian
tersebut
digunakan untuk ukuran produktivitas kinerja.
Formulasinya menjadi
output yang dihasilkan oleh pekerja dibagi dengan jam kerja. Ada dua unsur yang dapat digunakan sebagai kriteria dari produktivitas
kinerja, yaitu besar kecilnya keluaran
yang dihasilkan dan waktu kerja
yang dibutuhkan untuk melakukan suatu
pekerjaan.
Pengukuran produktivitas
secara akurat dan
tepat akan membutuhkan biaya yang besar dan waktu yang lama. Namun, metode work sampling dapat digunakan untuk mengukur produktivitas pekerja, karena salah satu manfaat dari work sampling adalah mengetahui distribusi
pemakaian waktu kerja oleh pekerja.
Berdasarkan hasil tersebut maka
dapat diketahui persentase produktivitas dan
persentase non produktif dari pekerja, dimana persentase produktivitas pekerja
dilihat dari pemakaian waktu kerja untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang produktif.
Banyaknya pengamatan
yang harus dilaksanakan dalam kegiatan sampling kerja
dipengaruhi oleh 2 faktor, yaitu:
1. Tingkat kepercayaan (Confidence Level).
2. Tingkat ketelitian (Degree of Accuracy).
Mengasumsikan bahwa terjadinya
keadaan
operator
atau sebuah fasilitas
yang
akan menganggur
(idle)
atau produktif mengikuti
pola distribusi normal,
maka jumlah pengamatan yang
seharusnya dilaksanakan dapat dicari didasarkan formulasi sebagai berikut (Sritomo Wignjosoebroto, 2003):
Untuk melakukan
pengamatan terhadap stopwtch dan work
sampling
Berikut
Perbedaan / Perbandingan Cara Stopwatch dengan cara Work Sampling :
(Ainul, 2012)
|
Cara
Stopwatch
|
Cara Work Sampling
|
|
Untuk job
rutin dan monoton
|
Untuk job
bervariasi dan tidak rutin
|
|
Umumnya
mengamati 1 orang
|
Mengamati
beberapa orang
|
|
Perhitungan
berdasarkan waktu
|
Perhitungan
berdasarkan proporsi
|
|
Siklus
jobpendek da jelas
|
Silklus
job tidak jelas
|
|
Pengamatan
kontinu
|
Pengamatan
diskrit
|