Kamis, 15 Oktober 2015

asal muasal illuminati

Zionisme’ berasal dari kata Ibranizion” yang artinya karang. Maksudnya merujuk kepada batu bangunan Haykal Sulaiman yang didirikan di atas sebuah bukit karang bernama ‘Zion’, terletak di sebelah barat-daya Al-Quds (Jerusalem). Bukit Zion ini menempati kedudukan penting dalam agama Yahudi, karena menurut Taurat, “Al-Masih yang dijanjikan akan menuntun kaum Yahudi memasuki ‘Tanah yang Dijanjikan’. Dan Al-Masih akan memerintah dari atas puncak bukit Zion”. Zion dikemudian hari diidentikkan dengan kota suci Jerusalem itu sendiri.

Zionisme kini tidak lagi hanya memiliki makna keagamaan, tetapi kemudian beralih kepada makna politik, yaitu suatu gerakan pulangnya ‘diaspora’ (terbuangnya) kaum Yahudi yang tersebar di seluruh dunia untuk kembali bersatu sebagai sebuah bangsa dengan Palestina sebagai tanah-air bangsa Yahudi dengan Jerusalem sebagai ibukota negaranya. Istilah Zonisme dalam makna politik itu dicetuskan oleh Nathan Bernbaum, dan ‘Zionisme Internasional’ yang pertama berdiri di New York pada tanggal 1 Mei 1776, dua bulan sebelum kemerdekaan Amerika-Serikat dideklarasikan di Philadelpia.

Gagasan itu mendapatkan dukungan dari Kaisar Napoleon Bonaparte ketika ia merebut dan menduduki Mesir. Untuk memperoleh bantuan keungan dari kaum Yahudi, Napoleon pada tanggal 20 April 1799 mengambil hati dengan menyerukan, ‘Wahai kaum Yahudi, mari membangun kembali kota Jerusalem lama”. Sejak itu gerakan untuk kembali ke Jerusalem menjadi marak dan meluas.

Adalah Yahuda al-Kalai (1798-1878), tokoh Yahudi pertama yang melemparkan gagasan untuk mendirikan sebuah negara yahudi di Palestina. Gagasan itu didukung oleh Izvi Hirsch Kalischer (1795-1874) melalui bukunya yang ditulis dalam bahasa Ibrani ‘Derishat Zion’ (1826), berisi studi tentang kemungkinan mendirikan sebuah negara Yahudi di Palestina.

Buku itu disusul oleh tulisan Moses Hess dalam bahasa Jerman, berjudul ‘Roma und Jerusalem’ (1862), yang memuat pemikiran tentang solusi “masalah Yahudi” di Eropa dengan cara mendorong migrasi orang Yahudi ke Palestina. Menurutt Hess kehadiran bangsa Yahudi di Palestina akan turut membantu memikul “misi orang suci kulit putih untuk mengadabkan bangsa-bangsa Asia yang masih primitif dan memperkenalkan peradaban Barat kepada mereka”. Buku ini memuat pemikiran awal kerja-sama konspirasi Yahudi dengan Barat-Kristen menghadapi bangsa-bangsa Asia pada umumnya, dan dunia Islam pada khususnya. Untuk mendukung gagasan itu berdirilah sebuah organisasi mahasiswa Yahudi militan bernama ‘Ahavat Zion’ di St.Petersburg, Rusia, pada tahun 1818, yang menyatakan bahwa, “setiap anak Israel mengakui bahwa tidak akan ada penyelamatan bagi Israel, kecuali mendirikan pemerintahan sendiri di Tanah Israel (Erzt Israel)”1.


Konsepsi tentang wilayah dan batas-batas negara Israel didasarkan pada Kitab Taurat. Berdasarkan Taurat, wilayah Israel luasnya “dari sungai Nil sampai sungai Tigris” yang kira-kira mendekati kekuasaan Emporium Assyria (sekitar 640 Sebelum Masehi)

Buku Moses Hess ‘Roma und Jerusalem’ (1862) mendapat perhatian dan dukungan dari tokoh-tokoh kolonialis Barat karenan beberpa pertimbangan, :
1. Adanya konfrontasi antara Eropa dengan daulah Usmaniyah Turki di Timur Tengah
2. Bangsa-bangsa Eropa membutuhkan suatu ‘bastion’ (bentang/pertahanan-red.) politik yang kuat di Timur Tengah dan ketika kebutuhan itu muncul orang Yahudi menawarkan diri secara sukarela menjadi proxi (wakil-red.) negara-negara Eropa.
3. Kebutuhan bangsa-bangsa Eropa itu sesuai dengan aspirasi kaum Yahudi untuk kembali ke Plaestina.
4. Gerakan Zionisme akan berfungsi membantu memecahkan “masalah Yahudi” di Eropa


Perlu dicatat bahwa gerakan Zionisme mulai mendapatkan momentumnya berkat bantuan dana keuangan tanpa reserve (tanpa batas-red.) dari Mayer Amschel Rothschilds (1743-1812) dari Frankfurt, pendiri dinasti Rothschilds, keluarga Yahudi Paling kaya di dunia.

Pendukung kuat dari kalangan poitisi Eropa terhadap gerakan Zionisme datang terutama dari Llyod Gerge (perdana menteri Inggris), Arthur Balfour (menteri luar-negeri Inggris), Herbert Sidebotham (tokoh militer Inggris), Mark Sykes, Alfred Milner, Ormsby-Gore, Robert Cecil, J.S. Smuts, dan Richard Meinerzhagen.

Sebenarnya sejak tahun 1882 Sultan Abdul Hamid II telah mengeluarkan sebuah dekrit yang berbunyi, meski sultan “sepenuhnya siap untuk mengizinkan orang Yahudi beremigrasi ke wilayah kekuasaannya, dengan syarat mereka menjadi kawula daulah Usmaniyah tetapi baginda tidak akan mengizinkan mereka meneap di Palestina”2. Alasan pembatasa ini karena, “Emigrasi kaum Yahudi di masa depan akan membuahkan sebuah negara Yahudi”3.

Pada waktu itu sebelum imigrasi kaum Yahudi yang massif (secara besar-besaran-red.) dimulai kira-kira hanya ada 250.000 jiwa orang Yahudi di antara 0,5 juta jiwa penduduk Arab di Palestina4. Meski ada titah sultan tersebut, arus imigrasi orang Yahudi tetap berhasil menerobos masuk ke Palestina secara diam-diam dan berlanjut bahkan melalui cara sogok sekalipun5.

Menjelang 1891 beberapa pengusaha Palestina mengungkapkan keprihatinan mereka mengenai kian meningkatnya imigran Yahudi, sehingga menganggap perlu mengirimkan telegram ke Istambul menyampaikan keluhan tentang kekhawatiran itu yang mereka simpulkan akan mampu memonopoli perdagnagn yang akan menjadi ancaman bagi kepentingan bisnis setempat, yang pada gilirannya akan menjadi ancaman politik6.

Pada tahun 1897, tahun yang bersamaan dengan ‘Kongres Zionisme I’, mufti Jerusalem, Muhammad Tahir Husseini, ayah dari Hajj Amin Husseini, memimpin sebuah komisi yang dibentuk khusus untuk memepelajari masalah penjualan tanah penduduk Arab kepada orang Yahudi. Resolusi komisi tersebut berhasil meyakinkan pemerintah kesultanan Usmaniyah mengeluarkan peraturan yang melarang penjualan tanah milik penduduk Arab kepada orang Yahudi di daerah Jerusalem untuk beberapa tahun7.

Usaha Warkop Sukses

Siapa yang menyangka pengusaha yang hanya bergerak di bidang warung makan yang diberi Nama warkop dapat menghasilkan ratusan ribu rupiah dalam sehari dan juga dapat mempekerjakan saudara dan tetangganya yang dikampung. pengusaha warkop ini bernama Jaya Suparman yang sudah berusia 38 tahun. usaha yang dilakoninya ini sudah dirintis dari tahun 2012, beliau membuka usahanya didaerah citeureup dengan 2 orang pekerja. kesuksesannya ini berawal dari sebuah inspirasi disaat dia menonton film, beliau memikirkan sebuah ide dimana dia membuka usaha dengan memfasilitasi film secara gratis di dalam warkopnya, namun siapa sangka dengan ide seperti itu dalam sehari beliau bisa mendapatkan untung sebesar Rp. 700.000,00. usaha yang dijalaninya ini berjalan selama 24 jam dalam 1 minggu yang artinya dengan 3 orang pekerja termasuk beliau menjalankan usahanya setiap hari kecuali saat hari raya.
pak jaya ini adalah orang asli citeureup dengan 2 orang anak, yang dimana kedua anaknya telah lulus kuliah sebagai sarjana teknik jenjang S1. namun beliau tidak memaksakan usahanya ini kepada 2 orang anak laki-lakinya.

Senin, 23 Februari 2015

CONTOH METODE PENELITIAN



BAB I
PENDAHULUAN

1.                  Latar Belakang Masalah
Produktivitas pada operator pembuatan kap lampu yang bekerja pada perusahaan PT. Citilite sering kali dipengaruhi oleh kinerja dari operator pembuatan kap lampu tersebut. Produktivitas dari operator sangat mempengaruhi tingkat produksi dan kualitas dari produk kap lampu karena dengan begitu bisa diketahui pendapatan dari perusahaan menurun atau meningkat.
Produktivitas dari operator juga dipengaruhi oleh lingkungan kerja atau kondisi dari operatornya tersebut. Produktivitas operator ini bisa diukur menggunakan data waktu acak menggunakan metode work sampling untuk mengetahui seberapa besar operator tersebut produktif atau tidak.

2.                  Tujuan Penelitian
Proposal Penelitian ini memiliki beberapa tujuan antara lain :
1.        Mengetahui persentase produktif dan non produktif operator yang bekerja pada PT. Citilite.
2.        Mengetahui waktu baku dari operator yang bekerja di PT. Citilite.
3.        Mengetahui tingkat ketelitian data dari operator yang bekerja di PT. Citilite.
4.        Mengetahui nilai kecukupan data dari penelitian yang dilakukan terhadap operator yag bekerja di PT. Citilite.







BAB II
LANDASAN TEORI

2.1     Pengertian Work Sampling
Telah  dikemukakan  berbagai  cara   menetapkan  waktu  baku  dimana terdapat diantaranya sampling pekerjaan. Cara ini, bersama-sama dengan pengukuran waktu jam henti merupakan cara langsung yang pengukurannya langsung di tempat  berjalannya pekerjaan. Jadi,  work  sampling adalah teknik untuk  menganalisa  produktivitas  dari  aktivitas  mesin,  proses,  atau  pekerja. Metode ini merupakan metode pengukuran kerja secara langsung karena pengamatan dilakukan secara langsung terhadap objek pengamatan (Sutalaksana, 2006).
Metode work sampling sangat baik digunakan dalam melakukan pengamatan atas pekerjaan yang sifatnya tidak berulang dan memiliki waktu yang relatif panjang. Berdasarkan  prosedur pelaksanaanya cukup sederhana, yaitu melakukan pengamatan aktifitas kerja untuk selang waktu yang diambil secara acak terhadap satu atau lebih mesin atau operator dan kemudian mencatatnya apakah mereka ini dalam keadaan bekerja atau menganggur (Sritomo, 2003).
Metode work sampling cocok digunakan untuk pekerjaan-pekerjaan yang tidak berulang. Pengamatan dengan work sampling dilakukan pada waktu yang telah ditentukan secara acak sehingga sangat efektif dan efisien untuk mengumpulkan informasi mengenai kinerja mesin atau pekerja, karena tidak memerlukan waktu yang lama. Pengamatan metode work sampling tidak perlu dilakukan pada keseluruhan jumlah populasi, cukup dengan menggunakan sampel yang diambil secara acak dari populasi. (Sutalaksana, 2006).


                 2.2     Berbagai Kegunaan Work Sampling
Work sampling mempunyai beberapa kegunaan pada umumnya  di bidang produksi selain untuk menghitung waktu-waktu penyelesaian. Kegunaan dari metode work sampling tersebut ialah (ainul, 2012):
1. Mengetahui distribusi pemakain waktu sepanjang waktu kerja oleh pekrja atau kelompok kerja.
2. Mengetahui tingkat pemanfaatan mesin-mesin atau alat-alat di pabrik.
3. Menentukan wakti baku bagi pekerja-pekerja tidak langsung.
4. Memperkirakan kelonggaran bagi suatu pekerjaan.
Metode work sampling akan terasa jauh lebih efisien karena informasi yang dikehendaki akan didapatkan dalam waktu yang relatif  lebih singkat dan biaya yang tidak terlalu besar. secara  garis  besar  metode  sampling  kerja  ini  dapat  digunakan  untuk (Sritomo Wignjosoebroto, 2003):
1.                  Mengukur  Ratio  Delay dari sejumlah  mesin,  operator  /  karyawan atau  fasilitas kerja lainnya.
2.                  Menetapkan  Performance Level  dari seseorang selama waktu kerja       berdasarkan waktu-waktu dimana orang itu bekerja atau tidak bekerja, terutama sekali untuk pekerjaan manual.
3.                  Menentukan waktu baku untuk suatu proses operasi kerja.

2.3    Langkah-Langkah Sebelum Melakukan Work Sampling
Langkah-langkah dalam melakukan work sampling tidak berbeda dengan cara jam henti. Begitu pula langkah-langkah yang dijalankan sebelum sampling dilakukan, yaitu:
1.                  Menetapkan tujuan pengukuran, yaitu untuk apa sampling dilakukan yang akan menentukan besarnya tingkat ketelitian dan keyakinan.
2.                  Jika  sampling   ditunjukan  untuk   mendapatkan  waktu  baku,   lakukanlah penelitian pendahuluan untuk mengetahui ada tidaknya sistem kerja yang baik. Jika belum, perbaikan-perbaikan sistem kerja harus dilakukan dahulu.
3.                  Memilih operator yang terbaik.
4.                  Mengadakan latihan bagi para operator yang dipilih agar bisa dan terbiasa dengan sistem kerja yang dilakukan.
5.                  Melakukan pemisahan kegiatan sesuai yang ingin didapatkan.
6.                  Menyiapkan peralatan yang diperlukan berupa papan pengamatan, lembaran- lembaran pengamatan, pena atau pensil, dan alat lain yang diperlukan untuk melakukan pengamatan (Sutalaksana, 2006).

2.4     Melakukan Sampling
Cara melakukan sampling pengamatan dengan sampling pekerjaan juga tidak berbeda dengan yang dilakukan untuk cara jam henti yaitu yang terdiri dari tiga langkah yaitu melakukan sampling pendahuluan, menguji keseragaman data, dan menghitung jumlah kunjungan yang diperlukan. Berikut ini adalah penjelasan lebih lengkapnya (Sutalaksana, 2006).
1.                  Sampling Pendahuluan
Melakukan sejumlah kunjungan yang banyaknya ditentukan oleh pengukur, biasanya tidak kurang dari 30. Semua pekerjaan yang dilakukan pekerja untuk menyelesaikan   pekerjaan   disebut   sebagai   kegiatan   produktif   dan   non produktif.
2.                  Pengujian Keseragaman Data
Tentukan batas-batas kontrol yaitu batas kontrol atas dan batas kontrol bawah.           
3.                  Menghitung waktu baku
Waktu baku adalah waktu penyelesaian yang dibutuhkan secara wajar oleh pekerja  normal untuk  menyelesaikan pekerjaannya  yang  dikerjakan dalam sistem kerja terbaik pada saat itu. Hal yang terakhir dilakukan dalam sampling pekerjaan adalah menghitung waktu baku. Waktu normal adalah waktu penyelesaian pekerjaan yang diselesaikan oleh pekerja dalam kondisi wajar dan kemampuan rata-rata.

2.5      Produktivitas Kinerja
Produktivitas merupakan perbandingan antara output dan input, pengertian tersebut  digunakan untuk ukuran produktivitas  kinerja.  Formulasinya  menjadi output yang dihasilkan oleh pekerja dibagi dengan jam kerja. Ada dua unsur yang dapat digunakan sebagai kriteria dari produktivitas kinerja, yaitu besar kecilnya keluaran  yang dihasilkan dan waktu kerja  yang  dibutuhkan untuk  melakukan suatu pekerjaan.
Pengukuran  produktivitas  secara  akurat  dan  tepat  akan  membutuhkan biaya yang besar dan waktu yang lama. Namun, metode work sampling dapat digunakan untuk mengukur produktivitas pekerja, karena salah satu manfaat dari work sampling adalah mengetahui distribusi pemakaian waktu kerja oleh pekerja. Berdasarkan hasil tersebut  maka  dapat  diketahui persentase produktivitas dan persentase non produktif dari pekerja, dimana persentase produktivitas pekerja dilihat dari pemakaian waktu kerja untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang produktif.
Banyaknya pengamatan  yang harus dilaksanakan dalam kegiatan  sampling kerja dipengaruhi oleh 2 faktor, yaitu:
1. Tingkat kepercayaan (Confidence Level).
2. Tingkat ketelitian (Degree of Accuracy).
Mengasumsikan bahwa  terjadinya  keadaan  operator  atau  sebuah  fasilitas  yang akan  menganggur  (idle)  atau  produktif   mengikuti  pola  distribusi  normal,  maka jumlah pengamatan yang seharusnya dilaksanakan dapat dicari didasarkan formulasi sebagai berikut (Sritomo Wignjosoebroto, 2003):
Untuk melakukan pengamatan terhadap stopwtch dan work sampling
Berikut Perbedaan / Perbandingan Cara Stopwatch dengan cara Work Sampling :
(Ainul, 2012)
Cara Stopwatch
Cara Work Sampling
Untuk job rutin dan monoton
Untuk job bervariasi dan tidak rutin
Umumnya mengamati 1 orang
Mengamati beberapa orang
Perhitungan berdasarkan waktu
Perhitungan berdasarkan proporsi
Siklus jobpendek da jelas
Silklus job tidak jelas
Pengamatan kontinu
Pengamatan diskrit